Menjadi bijaksana dikala semakin menua itu sudah biasa... cobain jadi wiser ketika hati kita penuh gejolak dan keinginan memberontak, seperti para motivator muda. selain menjadi lebih bijaksana ternyata ini membuat kita lebih free, tidak membesar-besarkan masalah, dan meminimalisir sakit hati.
Menjadi bijaksana berarti penuh dengan berpikir positif , open minded dan tidak egosentris. segala hal dilihat dari berbagai sudut pandang, tidak hanya dirinya sendiri. tidak keterlaluan mengomentari sesuatu diluar dirinya, apalagi menghakimi.
Memilih menjadi baik dan menyerahkan benar atau tidak hanya kepada Tuhan (Allah SWT).
Tentu saja diri saya sendiri tidak serta merta berkeinginan untuk menjadi bijaksana seperti para nabi, rahib, atau biksu ... proses ini memakan waktu
dari pemarah, negative thinking, menjudge, tak mau dikritik, egosentris semua saya lalui dan terkadang tidak ada rasa sesal karena melakukannya.
Tetapi yang membuat saya menjadi malu adalah ketika kita mencoba bertukar peran dengan opposite kita. kita tidak menyukai jika hal-hal tersebut dilakukan orang lain terhadap kita, maka bertukar peran adalah hal pertama yang menyadarkan saya untuk lebih bijaksana menghadapi segala sesuatu.
Jangan pernah melihat kebenaran hanya dari sudut pandang diri kita sendiri. Kecuali kebenaran dalam memeluk dan menjalankan agama (itu hak dan kewajiban setiap individu untuk mematuhinya). diluar itu, alangkah lebih baik jika kita tidak ingin menjadi yang paling benar apalagi mencari pembenaran dari tiap tindakan kita.
Be Wiser...